Iklan Adsense Otomatis

Review Journal “Characteristics of Senior High School Students in The Utilization of School Library in Indonesia”

REVIEW JURNAL 

“Characteristics of Senior High School Students in the Utilization of School Library in Indonesia”

BAB II

PEMBAHASAN

 

Berdasarkan data dalam jurnal, ditemukan beberapa hasil diantaranya

a. Durasi Kunjungan Siswa ke Perpustakaan Sekolah

Berdasarkan data yang ditemukan dalam jurnal ini, menyatakan bahwa tingkat durasi minat kunjungan pengguna ke perpustakaan mayoritas (terbanyak) adalah.selama 15-30 menit dengan total mencapai 96 responden. Hal tersebut terjadi karena para siswa mengunjungi perpustakaan pada saat jam istirahat, dimana durasi istirahat siswa SMA rata-rata adalah 15-30 menit. Lalu durasi kunjungan selama Kurang dari 30 menit dengan total mencapai 75 responden Kemudian, terdapat durasi minat kunjungan perpustakaan dengan durasi selama lebih dari 30 menit dengan jumlah mencapai 29 responden. Hal ini biasanya terjadi karena pengguna menggunakan layanan perpustakaan ketika mereka sedang tidak ada jam pelajaran (jam kosong) atau ketika jam pulang sekolah. Mengingat bahwa di beberapa sekolah, jam buka perpustakaan sekolah diperpanjang karena pendeknya waktu istirahat, agar pengguna dapat menikmati serta memanfaatkan fasilitas maupun layanan perpustakaan sekolah secara penuh. Meski begitu, hasil penelitian jurnal ini menunjukkan bahwa meskipun durasi buka layanan perpustakaan sekolah telah diperpanjang, siswa masih belum memanfaatkan perpustakaan tersebut secara maksimal. Hal ini dikarenakan adanya system full-day school sehingga siswa malas untuk memanfaatkan layanan di perpustakaan ketika jam pulang sekolah karena merasa sudah lelah, sehingga mereka lebih memilih untuk langsung pulang ke rumah.

Hurlock (1999) mengatakan minat seseorang adalah hasrat diri seseorang untuk melakukan apa yang mereka inginkan seperti koleksi bahan pelajaran yang memadai sehingga menarik minat siswa, memiliki desain ruang perpustakaan sekolah yang menarik dan memiliki koleksi yang variatif sesuai keinginan pengguna. Jika mereka melihat hal yang dirasa menguntungkan, maka mereka merasa berminat. Dengan demikian akan mendatangkan kepuasan pengguna.

b. Kegiatan Siswa di Perpusakaan Sekolah

Berdasarkan data yang ditemukan dalam jurnal ini menyatakan bahwa mayoritas pengguna paling banyak menggunakan layanan perpustakaan sebagai tempat Diskusi dengan total pengguna mencapai 112 orang (56%), untuk Mengerjakan tugas dengan total pengguna mencapai 86 orang (43%), serta Transaksi peminjaman buku dengan total pengguna mencapai 61 orang (30,5%). Selain itu, banyak pengguna berkunjung ke perpustakaan hanya untuk Bersantai (seperti menikmati kesegaran AC serta mencari ketenangan) dengan total mencapai 60 orang (30%), Mencari Informasi umum dengan total pengguna mencapai 45 orang (22,5%), untuk Mencari Bacaan popular dengan total pengguna mencapai 37 orang (18,5%), kemudian pengguna juga memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat untuk Berkencan dengan total pengguna mencapai 3 orang (1,5%), dan kegiatan Lainnya dengan total mencapai 7 orang (3,5%).

Dengan demikian proses pendidikan tidak hanya peer to peer (guru dengan siswa) di kelas melainkan siswa dengan siswa sedangkan guru sebagai fasilitator mereka untuk selalu meningkatkan diri terhadap bakat dan kemampuan mereka. Dengan hasil tersebut menunjukkan bahwa fungsi dari perpustakaan sekolah sendiri sebagai sarana penelitian, informatif, edukatif, dan sarana rekreasi, dibuktikan dengan pemanfaatan perpustakaan sebagai tempat kencan oleh sejumlah siswa.

Perpustakaan sekolah ini tidak hanya meenyediakan buku sekolah saja, seperti buku pelajaran. Namun, perpustakaan sekilah juga menyedikan buku untuk rekreasi seperti buku fiksi. Menurut Darmono perbandingan buku mata ajar dan buku fiksi ialah 60% dibanding 40%.

c. Tingkat Jumlah Peminjaman Buku (per bulan).

Berdasarkan data yang ditemukan dalam jurnal ini menyatakan bahwa, berikut adalah jumlah buku yang dipinjam oleh pengguna di perpustakaan sekolah per bulannya. Pertama mayoritas pengguna kebanyakan meminjam buku yaitu dengan jumlah buku kurang dari 2 eksemplar dengan total peminjam mencapai 126 orang (63%). Kemudian yang lainnya meminjam buku dengan Jumlah buku 2-3 eksemplar dengan peminjam mencapai 57 orang (28,5%), Jumlah buku 4-5 eksemplar dengan total peminjam mencapai 10 orang (5.0%), jumlah buku lebih dari 5 eksemplar dengan total peminjam mencapai 6 orang (3,0%) serta pengguna yang tidak pernah meminjam buku dengan total 1 orang (0,5%). Sehingga pinjaman koleksi di perpustakaan sekolah ini masih tampak belum maksimal.

Berdasarkan hasil penelitian, didapat bahwa terdapat berbagai alasan mengapa mayoritas siswa meminjam buku kurang dari 2 eksemplar. Hal ini terlihat pada jawaban siswa yang mengaku ia meminjam buku tidak lebih dari 2 eksemplar karena ia tidak memiliki tugas. Lalu, ia juga menambahkan lebih senang membaca melalui internet karena bisa sambal santai. Alasan lain juga karena perpustakaan tidak memiliki banyak koleksi yang bervariasi. Sehingga peran guru dalam hal ini sangat dibutuhkan. Perpustakaan perlu mengadakan kerjasama dengan guru untuk memaksimalkan pemanfaatan koleksi perpustakaan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar siswa.

d. Bahasa

Berdasarkan data yang ditemukan dalam jurnal ini menunjukkan bahwa pengguna cenderung memilih koleksi berbahasa Indonesia (89,0%), berbahasa Inggris (7,5%) serta Bahasa Mandarin dan Jerma (3,5%). Mayoritas pengguna memilih koleksi buku dengan Bahasa Indonesia daripada bahasa lainnya adalah karena kurang mampu dalam berbahasa asing sehingga juga mempengaruhi dalam pemanfaatan koleksi bahasa asing. Selain itu, juga karena mayoritas koleksi yang tersedia di perpustakaan adalah koleksi berbahasa Indonesia maka menjadikan daya tarik bagi siswa, karena lebih mudah bagi siswa untuk memahami konten bacaan buku yang berbahasa Indonesia.

e. Pemanfaatan Koleksi Bahasa Asing

Berdasarkan data yang ditemukan dalam jurnal ini menunjukkan bahwa, pemanfaatan koleksi bahasa asing per bulannya mayoritas siswa menyatakan tidak pernah memanfaatkannya, dengan total mencapai 95 orang (47,5%). Kemudian pengguna yang memanfaatkan sebanyak 1-2 kali per bulan dengan total mencapai 82 orang (41,0%), memanfaatkan sebanyak 3-4 kali per bulan dengan total mencapai 21 orang (10,5%), dan memanfaatkan sebanyak 5-6 kali per bulan dengan total mencapai 2 orang (1,0%).

Bagi siswa, menggunakan koleksi buku berbahasa asing membutuhkan waktu lebih banyak untuk memahami konten bacaan, karena mereka harus menerjemahkannya terlebih dahulu. Prabha (2007) mengatakan bahwa kecenderungan manusia membandingkan keuntungan yang didapatkan oleh mereka dimana mereka mencapai tujuan mereka, sehingga mereka dapat memilih salah satu pilihan terbaik yang mampu memberikan keuntungan relatif, khususnya dalam hal waktu serta biaya (efektifitas dan efisienitas).

f. Kompatibilitas Buku pada Rak dengan Katalog Buku

Berdasarkan data yang ditemukan dalam jurnal ini menyatakan bahwa, mayoritas pengguna mengatakan bahwa Jarang ada kesesuaian antara buku di katalog dan di rak dengan total mencapai 114 orang (57%). Pengguna yang menjawab Tidak tahu denga total mencapai 57 orang (28,5%) karena mereka tidak pernah menggunakan katalog online. Serta pengguna yang menjawab Selalu atau Ada Kesesuaian antara Koleksi buku di rak dan di katalog dengan total mencapai 29 orang (14,5%).

Ketidaksuaian letak buku sebagian besar karena setelah pengguna selesai membaca buku, pengguna mengembalikan buku tersebut ke rak yang salah atau tidak sesuai dengan urutan call number. Seharusnya setelah membaca buku, pengguna meletakkan buku tersebut pada troli yang disediakan atau di atas meja membaca, sehingga nantinya pustakawan yang akan meletakkan koleksi kembali pada rak sebenarnya sehingga ketika terdapat pengguna lain yang mencari buku yang sama maka dapat ditemukan dengan cepat.

g. Crosstab antara Bagaimana Akses Koleksi Dengan Durasi Pencarian Koleksi di Rak

Berdasarkan data yang ditemukan dalam jurnal ini menyatakan bahwa, mayoritas pengguna membutuhkan durasi kurang dari 10 menit untuk mengakses koleksi dengan total mencapai 93 orang (46,5%), durasi 10-20 menit dengan total mencapai 92 oarng (46%), Durasi 21-30 menit dengan total mencapai 8 orang (4,0%) serta dengan Durasi lebih dari 30 menit mencapai 7 orang (3,5%).

Berdasarkan data, menunjukkan bahwa mayoritas responden yang menjawab menggunakan cara langsung ke rak-rak sebanyak 79,0%. Hal ini karena mereka tidak mengerti bagaimana menemukan koleksi, oleh karena itu, mereka langsung pergi ke rak dan kemudian mencari koleksi yang mereka butuhkan satu per satu. Kemudian responden yang Bertanya kepada petugas perpustakaan sebanyak 12,5%. Untuk siswa yang tidak malu dan tidak ragu-ragu untuk bertanya, mereka segera meminta koleksi yang mereka butuhkan kepada pustakawan. Lalu responden yag memanfaatkan OPAC/ Katalog sebnayak 4,0%, dimana mereka menggunakan fasilitas tersebt akrena mereka sudah memahami cara penggunaannya. Sedangkan responden yang menjawab Bertanya Pada Pustakawan dan Mencari langsung Ke rak-rak adalah sebanyak 3,0%. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pemanfaatan Katalog/OPAC belum dimanfaatkan secara maksimal oleh pengguna.

h. Akses melalui OPAC/Katalog

Berdasarkan data yang ditemukan dalam jurnal menunjukkan bahwa, mayoritas responden mernjawab bahwa pengoperasian OPAC Membingungkan dengan total mencapai 75 orang (37,5%). Kemudian, pengguna Tidak Tahu cara pengoperasian OPAC dengan total mencapai 57 orang (28,5%), pengguna yang menjawab pengoperasian OPAC Mudah dengan total mencapai 47 orang (23,5%), serta pengguna yang menjawab pengoperasian OPAC Rumit dengan total sebanyak 21 orang (10,5%).

Siswa diperkenalkan dengan koleksi buku-buku dari perpustakaan sekolah melalui katalog/OPAC pada saat orientasi mahasiswa baru. Mengingat besarnya jumlah siswa yang tidak sebanding dengan jumlah katalog yang terbatas/alat peraga OPAC, periode pengenalan ini dirasa kurang atau tidak cukup. Oleh karena itu, perlu adanya sosialiasi kepada pengguna pengguna tentang bagaimana memanfaatkan perpustakaan sekolah, terutama tentang pencarian koleksi melalui OPAC/Katalog, sehingga informasi dapat diperoleh dengan mudah. Pendidikan/Sosialiasi untuk pengguna dapat dilakukan setiap saat baik secara terjadwal maupun adanya permintaan dari pengguna. Seta perlu adanya pemberian/pemasangan informasi pada perpustakaan tentang bagaimana untuk melakukan pencarian koleksi buku melalui katalog/OPAC, sehingga bagi siswa yang malu untuk bertanya mereka dapat membaca informasi/keterangan yang telah dipasang tersebut.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kesimpulan dari hasil review berdasarkan temuan data pada jurnal, makadapat disimpulkan bahwa siswa sekolah menengah memiliki berbagai macam karakteristik dalam mengunjungi perpustakaan, baik itu memanfaatkan fasilitas maupun menggunakan layanan yang tersedia. Umumnya, siswa cenderung memilih mengunjungi perpustakaan di sela waktu istirahat. Kegiatan yang dilakukan di perpustakaan beranega ragam, namun kebanyakan siswa dating keperpustakaan untuk berdiskusi dan mengerjakan tugas, serta meminjam buku. Buku yang dibaca atau dipinjam biasanya buku yang berbahasa Indonesia dengan jenis buku yang bermacam-macam, seperti buku pembelajaran atau buku karya popular. Hanya saja, beberapa siswa dalam mencari buku cenderung langsung menujuk ke rak dibandingkan menggunakan OPAC. Hal ini dikarenakan buku yang ada di rak dan keterangan di OPAC tidak sesuai dan membingungkan bagi para siswa.

3.2 Saran

Untuk saran yang berhubungan dengan penelitian, salah satu kekurangan dari perpustakaan sekolah adalah masih ada fasilitas dan layanan yang tidak digunakan oleh siswa, maka dari itu sebaiknya pihak sekolah dapat meningkatkan fasilitas dan layanan agar digunakan secara keseluruhan oleh semua siswa. Selain itu, sebaiknya staf perpustakaan memberitahukan kepada siswa agar buku yang sudah dibaca diletakkan di satu tempat yang sudah disediakan, agar nantinya staf perpustakaan sendiri yang menyusunnya ke rak. Hal ini dilakukan untuk mencegah siswa mengembalikkan sendiri buku yang mereka baca, sehingga buku tetap tersusun sesuai dengan katalog.

TagL Ilmu Perpustakaan, Manajemen Koleksi Perpustakaan

STUDI KASUS

Contoh Studi kasus tentang karakteristik pengguna produk informasi terlihat pada pemanfaatan Perpustakaan Umum Kota Surabaya. Karakteristik pengguna Perpustakaan Umum Kota Surabaya dapat dilihat dari kebutuhan pengguna yang beragam. Misalnya terkait dengan pendidikan dimana pengguna membutuhkan koleksi umum non fiksi untuk bahan penelitian. Kemudian untuk memenuhi kebutuhan pengguna seperti informasi hiburan maka pengguna dapat membaca koleksi fiksi seperti novel. Untuk pemenuhan kebutuhan informasi kesehatan didapat dari perpustakaan umum kota melalui jenis koleksi umum terkait dengan koleksi non fiksi yang berhubungan dengan kebutuhan atau sesuai dengan informasi kesehatan apa yang diinginkan. Kemudian karakteristik pengunjung dapat dilihat dari alasan pengguna untuk datang ke perpustakaan, alasan penggunjung yang datang ke perpustakaan diataranya meminjam/mengembalikan buku demi diri sendiri dan meminjam/mengembalikan buku demi tugas, belajar dan lain-lain.