Iklan Adsense Otomatis

Studi Perbandingan skill pengelola pusat informasi (perpustakaan) dalam memberikan layanan

Wahyu Febrianto - 071711633018
Ilmu Informasi dan Perpustakaan - Universitas Airlangga



1. Coba bandingkan skill dalam memberikan layanan yang dikuasai oleh pengelola sebuah pusat informasi yang ada di Indonesia dengan negara lain.

Jawaban: 

Kondisi pandemi yang melanda masyarakat saat ini yang mengharuskan aktivitas seperti mengonsumsi informasi melalui virtual. Ini dapat menjadi tantangan pada lembaga informasi terutama perpustakaan dalam mmberikan layanan untuk memenuhi kebutuhan informasinya dengan kompetensi pustakawan yang dimiliki. Di sisi lain, berkembangnya informasi yang semakin pesat, otomatis tugas pustakawan tidak hanya terbatas pada pengelolaan perpustakaan saja. Kini perlu diimbangi dengan keterampilan lain seperti pembangunan sebuah jaringan informasi (Ridlo & Farida, 2018). Pada umumnya, layanan alternatif yang diberikan perpustakaan seperti menawarkan fokus layanannya adalah pada layanan online dan konten digital yang dapat dinikmati oleh pengguna. Berdasarkan penelitian Ridlo & Farida, (2018) pustakawan saat ini hanya dituntut untuk menguasai aplikasi web SLIMS yang digunakan sebagai portal penelusuran dan penemuan kembali Informasi, referensi. Sedangkan perpustakaan yang berada di luar negeri kini, salah satunya di Kroasia juga menyerukan e-resources dan menyediakan akses konten virtual sebanyak mungkin ke kepada public (Anonim, 2020). Sehingga munculnya kesempatan untuk meningkatkan peran pustakawan dan mengarah pada munculnya generasi baru pustakawan yang disebut dengan “Cyber Librarian” atau “Cybrarian” spesialis dalam mencari informasi di Internet (Hathorn dalam Ridlo & Farida, 2018). 

Daftar Pustaka

Anonim. (2020). Public Libraries in Europe and COVID-19 : Findings from NAPLE Members , April 2020 Main Report. April, 1–14.

Ridlo, M. R., & Farida, U. (2018). Cyber Librarian: Konsep Pustakawan Indonesia 2050. BIBLIOTIKA : Jurnal Kajian Perpustakaan Dan Informasi, 2(2), 79–87. https://doi.org/10.17977/um008v2i22018p079

2. Coba bandingkan bagaimana upaya pengelola museum untuk meningkatkan jumlah pengunjungnya di era digital dengan era sebelumnya.

Jawaban:

Museum sebagai institusi penyimpanan koleksi artefak, manuskrip permanen dengan cara memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan dan kesenangan (Sumpeno et al., 2015). Namun, selama era sebelum digital, museum identik dengan area kuno yang menggambarkan terkikisnya kecintaan terhadap budaya dan sejarah. Indikasi ini memicu berbagai usaha dalam rangka jumlah kunjungan masyarakat ke museum. Salah satunya upaya yang dilakukan dengan menggunakan teknologi informasi dengan membuat virtual museum melalui metode untuk merekonstruksi objek museum asli dalam bentuk model dimensi tiga, agar diperoleh model dimensi tiga yang akurat dan mirip dengan objek aslinya (Sumpeno et al., 2015). Dengan mempertahankan objek asli dapat menyelamatkan informasi (Prastiani & Subekti, 2017). Hal inilah yang akan membawa meningkatkan animo masyarakat untuk berkunjung ke Museum Nasional dan diperkuat posisinya sebagai penjaga hasil kebudayaan dengan cara mempermudah masyarakat akses untuk melihat-lihat koleksi museum menggunakan media museum virtual yang dapat diakses secara daring (online).

Daftar Pustaka

Prastiani, I., & Subekti, S. (2017). Digitalisasi Manuskrip Sebagai Upaya Pelestarian Dan Penyelamatan Informasi (Studi Kasus Pada Museum Radya Pustaka Surakarta). Jurnal Ilmu Perpustakaan, 6(3), 141–150. https://ejournal3.undip.ac.id/index.php/jip/article/view/23141

Sumpeno, S., Zaini, A., Muhtadin, M., Mardi, S., Nugroho, S., Yuniarno, E. M., Ketut, I., & Purnama, E. (2015). Ragam Teknologi Informasi untuk Revitalisasi Museum. Seminar Nasional Otomasi Industri Dan Teknologi Informasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember, 2015(Snoiti). https://www.researchgate.net/profile/Surya_Sumpeno/publication/286454147_Ragam_Teknologi_Informasi_untuk_Revitalisasi_Museum/links/566aadfd08ae62b05f0356d7.pdf